Liputanone,co.id.– Mentawai, ujung perahu kayu kecil bergoyang diterpa ombak Samudera Hindia. Fitri Anita, 43 tahun, berdiri tegak. Tangannya kasar, penuh kapalan dan bekas luka, cekatan menarik jala.selasa, 07/07/2026
Di balik gerakan terbiasa itu, tersimpan perjuangan tiga tahun. Warga Dusun Jati, Desa Tuapejat, Kepulauan Mentawai ini kini bukan lagi ibu rumah tangga biasa. Ia tulang punggung keluarga. Berjuang di laut, di ladang, sekaligus merawat suami Antonius yang menderita stroke.
Tiga tahun lalu hidup mereka berubah. Antonius terserang stroke. Penyakit itu melumpuhkan tubuh dan mengganggu kejiwaannya. Sejak itu, semua beban hidup berpindah ke pundak Fitri.
“Sejak bapak kena stroke, mentalnya ikut terganggu. Saya yang harus cari nafkah. Apa saja pekerjaan halal saya kerjakan. Cuaca bagus saya ke laut. Ombak besar saya ke ladang,” ucap Fitri lembut tapi tegas.
Dunia nelayan keras untuknya. Dulu ia hanya kenal dapur dan rumah. Kini ia hadapi angin kencang dan tenaga terkuras habis. Hasil tangkapan tak menentu. Jika laut memberi, obat suami terbeli. Jika laut tak baik, mereka menahan lapar.
Hari Fitri mulai sebelum matahari terbit. Di rumah panggung tua, ia lebih dulu menyuapi Antonius, memberi obat, menenangkan saat suaminya uring-uringan. Berjam-jam waktunya habis untuk merawat. Baru setelah itu ia berangkat bekerja.
Dulu Antonius penopang keluarga, Fitri mengurus rumah dengan kasih. Hidup sederhana tapi bahagia. Semua runtuh saat penyakit datang.
Penderitaan tak berhenti di ekonomi. Rumah mereka tak layak huni. Atap bolong. Setiap hujan, air merembes ke ruang tamu hingga kamar tidur. Hanya satu kamar yang masih aman ditempati.
“Apa lagi yang bisa saya lakukan? Dia suami saya, bapak anak-anak kami. Saya harus kuat demi dia. Berjuang dan bertahan satu-satunya cara agar keluarga ini tetap utuh,” tegasnya.
Bhabinkamtibmas Sipora Utara, Polres Mentawai, Donny, mengapresiasi ketegaran Fitri sekaligus prihatin. Perjuangan ini sudah hampir tiga tahun. Tiga bulan lalu Dinas Sosial Mentawai datang dan berjanji memberi bantuan, tapi hingga Mei 2026 belum terealisasi.
“Kini sudah masuk Mei. Kami sangat berharap pemerintah segera salurkan bantuan, baik materi maupun pendampingan. Beban Fitri sangat berat: makan, kesehatan, dan kondisi psikis suaminya. Apalagi mereka tinggal di kawasan wisata. Sangat disayangkan ada warga hidup serba kekurangan dan rumah tak layak seperti ini,” ungkap Donny.
Fitri hanya butuh uluran tangan agar Antonius bisa terus terurus, dan atap rumah mereka tak lagi bocor saat hujan.(Roby)


