Viral! Lagu"Ranggong Bumoe" karya Syakir Daniel Jadi Simbol Duka Aceh
ACEH – LIPUTANONE | Lagu berbahasa Aceh berjudul “Ranggong Bumoe” yang dinyanyikan sekaligus diciptakan oleh Syakir Daniel menjadi viral di berbagai platform media sosial dan kerap digunakan sebagai pengiring suasana duka atas musibah banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada penghujung tahun 2025. Sabtu, 3/1/26.
Popularitas lagu ini melonjak seiring maraknya unggahan video dan dokumentasi warga yang memperlihatkan dampak banjir bandang, mulai dari air yang meluap ke permukiman, rumah-rumah warga yang terendam, hingga jeritan dan kesedihan para korban terdampak bencana.
Dalam banyak unggahan tersebut, potongan lagu Ranggong Bumoe dipilih sebagai latar suara yang dinilai mampu mewakili perasaan duka dan kepasrahan masyarakat Aceh.
Lagu Ranggong Bumoe sendiri merupakan karya orisinal Syakir Daniel yang sarat dengan nuansa religius. Liriknya mengandung ratapan, doa, serta pengakuan akan kebesaran Allah SWT, yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Pesan moral dan spiritual dalam lagu tersebut dianggap sangat relevan dengan kondisi masyarakat yang tengah diuji oleh bencana alam.
Banyak warganet menilai lagu ini tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan juga sebagai media refleksi dan penguat batin bagi masyarakat yang sedang tertimpa musibah. Nada sendu serta penghayatan vokal Syakir Daniel dinilai mampu menyentuh emosi pendengar, khususnya masyarakat Aceh yang memiliki kedekatan budaya dan bahasa dengan lagu tersebut.
" Ranggong Bumoe” kini tidak hanya dikenal sebagai karya musik daerah, tetapi juga telah menjelma menjadi simbol duka kolektif masyarakat Aceh di tengah bencana banjir akhir tahun 2025.
Lagu ini menjadi pengingat akan pentingnya keikhlasan, doa, dan kebersamaan dalam menghadapi cobaan, sekaligus memperlihatkan bagaimana karya seni lokal dapat berperan besar dalam merekam peristiwa kemanusiaan.
Dengan viralnya lagu ini, nama Syakir Daniel pun semakin dikenal luas sebagai seniman Aceh yang mampu menghadirkan karya bernilai spiritual dan sosial, sekaligus memperkuat identitas budaya Aceh di tengah arus media digital.
(Dedy Surya)



Komentar
Posting Komentar