Liputanone.co.id, Mentawai | Loreng untuk sementara berganti batik. Selasa pagi (21/4/2026), halaman Mako Polres Kepulauan Mentawai di Tuapejat berubah menjadi panggung keanggunan. Jajaran Polwan Bumi Sikerey serentak tampil dalam balutan batik nusantara, memperingati Hari Kartini tanpa meninggalkan barisan.
Apel pagi yang dipimpin Kabag Ops AKP Aleyxi Aubeyddillah, S.H. itu tetap berjalan dengan khidmat dan disiplin. Bedanya hanya satu: senyum para Srikandi Bhayangkara hari ini berpadu dengan corak wastra yang menegaskan identitas mereka sebagai perempuan Indonesia.
Transformasi ini bukan sekadar ganti seragam. Ini adalah pesan. Bahwa emansipasi yang diperjuangkan R.A. Kartini kini hidup dalam sosok Polwan yang berdiri di garda terdepan kepulauan. Tangguh menantang ombak, tegas menjaga kamtibmas, namun tak pernah kehilangan kelembutan dan akar budayanya.
“Lihat mereka. Di balik batik yang anggun itu ada kesiapan bertugas 1x24 jam. Ada keberanian patroli di pulau-pulau terluar. Ada ketegasan menindak pelanggar hukum,” ujar AKP Aleyxi dalam arahannya. Menurutnya, Hari Kartini adalah pengingat bahwa perempuan di tubuh Polri punya ruang yang sama untuk mengabdi.
Apresiasi tertinggi datang dari Kapolres Kepulauan Mentawai, AKBP Rory Ratno A., S.E., M.M., M.Tr.Opsla. Baginya, batik yang dikenakan Polwan hari ini adalah simbol, bukan seremoni. “Jangan pernah reduksi Hari Kartini hanya jadi ajang berbatik. Teladani keberaniannya mendobrak tembok Keterbatasan,” tegas AKBP Rory.
Ia menyebut Polwan Polres Mentawai sebagai wujud nyata Kartini masa kini. “Mereka buktikan, wanita bisa berdiri sama tinggi. Di satu sisi mereka penegak hukum yang disegani, di sisi lain mereka penjaga budaya yang tak tercerabut dari akar,” tutupnya.
Momentum apel pagi itu sekaligus menegaskan: di Bumi Sikerey, emansipasi bukan lagi wacana. Ia hadir setiap hari dalam diri para Srikandi Bhayangkara yang memilih mengabdi di wilayah kepulauan. (Robi)
