LIPUTANONE.CO.ID | PADANG, SUMBAR | Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini kembali menggema di Sumatera Barat pada peringatan Hari Kartini tahun 2026, namun kali ini hadir dengan nuansa berbeda—lebih tajam, lebih humanis, dan lebih menyentuh realitas masyarakat.
Di balik ucapan resmi yang ditampilkan, sosok Wakapolda Sumbar, Brigjen Pol Solihin, tampil sebagai figur sentral yang tidak sekadar menyampaikan seremoni, tetapi membawa pesan mendalam tentang keadilan, kesetaraan, dan keberpihakan pada perempuan.
Momentum ini tidak hanya menjadi peringatan sejarah, melainkan refleksi nyata atas peran perempuan dalam kehidupan sosial, hukum, dan pelayanan publik yang semakin kompleks.
Brigjen Pol Solihin menegaskan bahwa semangat Kartini bukan sekadar simbol emansipasi, melainkan panggilan moral bagi seluruh aparat penegak hukum untuk hadir secara nyata dalam melindungi dan melayani perempuan.
Dalam pandangannya, perempuan hari ini bukan lagi objek pembangunan, melainkan subjek utama yang harus diberi ruang, akses, dan perlindungan yang adil.
“Perempuan berdaya adalah fondasi masyarakat yang kuat. Polisi harus hadir memastikan rasa aman itu nyata, bukan sekadar slogan,” menjadi pesan yang tersirat kuat dalam peringatan tersebut.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa tantangan perempuan di era modern semakin kompleks—mulai dari kekerasan, ketidakadilan sosial, hingga keterbatasan akses dalam berbagai sektor.
Di sinilah, menurutnya, Polri harus mengambil posisi strategis sebagai pelindung yang tidak hanya tegas, tetapi juga berempati dan memahami kondisi masyarakat.
Pendekatan humanis yang diusung Brigjen Pol Solihin menjadi warna tersendiri dalam kepemimpinan di lingkungan Polda Sumbar.
Ia mendorong seluruh jajaran untuk tidak hanya menjalankan tugas secara prosedural, tetapi juga menghadirkan sentuhan kemanusiaan dalam setiap pelayanan.
Peringatan Hari Kartini pun menjadi momentum reflektif bagi institusi kepolisian untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas pelayanan publik yang inklusif.
Tidak hanya soal keamanan, tetapi juga memastikan bahwa perempuan mendapatkan hak yang sama dalam akses hukum dan perlindungan.
Pesan kuat ini sejalan dengan semangat transformasi Polri menuju institusi yang presisi—prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan.
Dalam konteks Sumatera Barat, langkah ini menjadi penting mengingat peran perempuan Minangkabau yang sangat strategis dalam struktur sosial budaya.
Brigjen Pol Solihin memahami bahwa menjaga kehormatan dan keselamatan perempuan berarti menjaga fondasi masyarakat itu sendiri.
Karena itu, ia mendorong sinergi antara kepolisian dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif.
Peringatan Hari Kartini bukan lagi sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum perubahan paradigma dalam pelayanan publik.
Di tangan kepemimpinan yang humanis, pesan Kartini menemukan relevansinya kembali di era modern.
Dan dari Sumatera Barat, melalui sosok Wakapolda, semangat itu disuarakan dengan tegas—bahwa keadilan dan kesetaraan bukan pilihan, melainkan keharusan.
CATATAN REDAKSI
Semangat Kartini adalah semangat keberanian untuk melawan ketidakadilan dan membuka jalan bagi masa depan yang lebih setara. Apa yang disampaikan Wakapolda Sumbar menjadi pengingat bahwa negara harus hadir melalui aparatnya—bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung nilai-nilai kemanusiaan.
TIM RMO
