![]() |
Pihak sekolah mengaku terpaksa menjalankan proses belajar mengajar (PBM) darurat sejak awal semester akibat akses utama menuju sekolah tidak dapat dilalui.
Kepala SDN Alue Lhok, AMIR, S.Pd., menjelaskan, kebijakan membuka dua kelas campuran antara kelas rendah dan kelas tinggi dilakukan atas permohonan para wali murid demi menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak mereka.
" Memang benar seperti yang diberitakan sebelumnya. Sejak mulai semester satu, atas permohonan wali siswa, kami membuka PBM darurat dengan dua kelas campuran, yakni kelas rendah dan kelas tinggi, dengan jumlah siswa sebanyak 19 orang. tempat belajar sementara kami gunakan di posyandu desa,” ungkapnya Kepada Media Ini.
Menurutnya, langkah tersebut terpaksa dilakukan karena jembatan utama yang biasa dilalui masyarakat menuju sekolah telah ambruk dan belum dapat digunakan hingga saat ini.
Lebih jauh dijelaskan, bilamana siswa harus melewati jalur alternatif melalui Desa Lawet, perjalanan menjadi sangat jauh dan sulit ditempuh. Selain kondisi jalan yang kerap dilanda banjir, para siswa juga harus menempuh jarak hampir 8 kilometer melalui jalur Pulo Teungoh – Jambak.
" Orang tua siswa mengaku kesulitan mengantar anak-anak mereka setiap hari karena akses sangat jauh dan berat. Selain itu, ada juga guru yang berdomisili di Canggai dan Lawet sehingga kondisi ini sangat mempengaruhi aktivitas pendidikan,” katanya.
Dengan demikian, pihak sekolah menilai sistem Proses belajar Mengajar darurat tersebut tidak lagi efektif untuk dilanjutkan. Selain karena keterbatasan tempat belajar yang dianggap kurang layak, sistem kelas campuran juga dinilai menyulitkan proses pembelajaran dan pengawasan siswa.
" Khusus setelah ujian nanti, kemungkinan besar PBM darurat di desa, tidak akan dilaksanakan lagi karena memang tidak efektif. Siswa belajar dalam kondisi kelas campur, tempat tidak layak, dan koordinasi pengawasan juga cukup sulit,” jelasnya.
Sebagai bentuk harapan sederhana masyarakat dan Kepala SDN Alue Lhok, menyampaikan bahwa mereka tidak menuntut pembangunan permanen dalam waktu dekat, mengingat kondisi keterbatasan anggaran pemerintah saat ini.
Menurut mereka, solusi darurat pun sebenarnya sudah sangat membantu demi keberlangsungan pendidikan dan aktivitas masyarakat sehari-hari.
" Bagi kami masyarakat di sini, jembatan satu tali untuk pijakan dan satu tali untuk pegangan pun sebenarnya sudah cukup untuk sementara, yang penting anak-anak bisa kembali sekolah dengan aman dan warga bisa melintas,” ungkap salah seorang Tokoh Masyarakat yang turut mendampingi Kepala Sekolah.
Selanjutnya Kepsek, Alue Lhok, kembali menambahkan, kondisi jembatan yang ambruk saat ini dinilai masih memungkinkan untuk diperbaiki sementara karena sebagian material lama masih dapat dimanfaatkan kembali.
" Menurut kami, material jembatan yang ambruk itu sebenarnya masih bisa difungsikan. Kalau ditarik menggunakan alat berat dan dirapikan kembali, Insya Allah semuanya bisa selesai dan otomatis bisa digunakan kembali oleh masyarakat,” jelasnya.
Pernyataan tersebut juga diamini warga setempat. Mereka berharap adanya penanganan cepat meskipun bersifat darurat, agar akses masyarakat tidak lumpuh terlalu lama.
Hal senada juga disampaikan sejumlah Tokoh Masyarakat setempat. Mereka mengaku memahami kondisi pemerintah daerah yang saat ini menghadapi keterbatasan anggaran, (efisiensi) namun masyarakat berharap persoalan akses pendidikan tetap menjadi perhatian bersama.
" Kami sadar pemerintah juga sedang mengalami keterbatasan anggaran. Jadi kami tidak meminta yang muluk-muluk, cukup ada perhatian agar anak-anak kami bisa sekolah dengan aman dan tidak kesulitan lagi menempuh perjalanan jauh setiap hari,” ungkap salah seorang warga lainya.
Warga berharap adanya langkah penanganan sederhana maupun pembangunan sementara agar aktivitas masyarakat dan proses belajar mengajar siswa dapat kembali berjalan normal seperti sebelumnya.
Diketahui, kondisi akses yang sulit saat ini sangat mempengaruhi kesiapan belajar para siswa menjelang ujian. Karena itu, pihak sekolah dan masyarakat berharap adanya solusi darurat agar aktivitas pendidikan tidak terus terganggu.
" kondisi akses yang sulit saat ini sangat mempengaruhi kesiapan belajar para siswa menjelang ujian. "Mengingat pelaksanaan ujian semester genap akan tiba tidak lama lagi, sekali lagi kami sangat berharap adanya penanganan secepat mungkin dari Pemerintah Aceh, agar para siswa dapat kembali mengikuti proses belajar dengan lebih baik dan nyaman,” tandas Kepala SDN Alue Lhok.
Masyarakat Umum di Kecamatan Pante Ceureumen juga sangat mengharapkan perhatian khusus dari Pemerintah maupun Pihak- pihak terkait lainya mengingat pendidikan anak-anak merupakan kebutuhan mendasar yang harus tetap berjalan meskipun dalam keterbatasan.
" Kami khawatir apabila kondisi ini terus berlarut, semangat belajar anak-anak akan menurun karena harus menghadapi perjalanan yang berat setiap hari. Harapan kami sederhana, yang penting akses bisa kembali digunakan sehingga siswa dapat fokus menghadapi ujian semester," Demikian Harapan sederhana dari seorang Kepsek dan Masyarakat umum Pante Ceureumen.
(Dedy Surya)

